Cut Dini Syahrani

Saat suara tak lagi didengar, menulislah

  • Home
  • Cerita
  • Fiksi
  • Puisi
  • Publikasi
  • Contact Us
    • Facebook
    • Instagram

Siang itu aku keluar dari Lab.Statkom (salah satu bagian dari Lab.Dasar MIPA) dan mendapati pintu ruang sekret Math Fair terbuka. Aku menyempatkan diri mengintip ke bagian dalam. Hmm tatanan barang-barangnya sudah berbeda. Namun kenangan itu masih lekat terasa. Suara printer, hembusan kencang kipas angin, tempelan-tempelan post-It. Kegiatan melipat-lipat surat, mengantar surat, mencari-cari tanda-tangan pengesahan, mengantar proposal.  Ahh euvoria itu kembali mengambang. Aku rindu. Rindu pada aktifitas kami yang “luar biasa” beberapa bulan yang lalu. 



            Math Fair adalah salah satu kegiatan tahunan yang menjadi kebanggaan Jurusan Matematika FMIPA Unsyiah. Math Fair termasuk salah satu acara besar yang terdiri dari beberapa paket acara yang berbeda-beda setiap tahunnya. Namun ciri khas dari acara ini adalah Olimpiade Matematika dan Komputer. Acara yang bernaung di bawah HIMATIKA (Himpunan Mahasiswa Matematika) ini sebenarnya adalah acara “ego leting”. Penanggungjawab acara ini berbeda-beda tiap tahun sesuai letting. Walaupun demikian, semua pihak juga membantu terselenggaranya acara tersebut, mulai dari Fakultas, Jurusan, Alumni, senior-senior bahkan para junior pun turut ambil peran. Namun tetap hanya letting yang bersangkutan yang bertanggungjawab penuh atas segala sesuatu yang terjadi di Math Fair.



                “Eh pengumuman kelompok KKN udah keluar, yuk liat di pengajaran “, teriakan salah seorang temanku sembari menghampiri kami. Hmm KKN, mendengarnya saja sudah membuat mood ku berubah. Apalagi membayangkan kegiatan yang kami kerjakan selama KKN nanti, benar-benar buatku mual. Tapi apa boleh dikata, surat keputusan rektor yang mewajibkan Mahasiswa Unsyiah dari angkatan 2009 untuk mengambil Mata Kuliah KKN. Dan saya adalah salah satu mahasiswa tersebut.
                Mendengar kabar kalau pengumuman kelompok KKN gelombang 3 sudah keluar, aku bersama teman-teman langsung menuju ke pengajaran MIPA. Dengan berat hati tentunya. Aku dan teman-teman se-angkatan 2009 MIPA Matematika sepakat untuk mengikuti KKN gelombang 3 agar lebih fokus pada acara Math Fair yang ketika itu berlangsung saat KKN gelombang 1 dilaksanakan. Untuk yang gelombang 2, kami pun berniat fokus pada kuliah di semester tersebut.

Sore itu aku baru saja usai dari kegiatan berjualan suwarni*. Penat, letih semakin menjadi-jadi. Hari itu aku berjanji dengan mamak untuk tidak pulang terlalu sore. Menurut rencana aku akan menemani mamak ke sebuah tempat yang konon terlihat horor oleh penderita sakit gigi. Ya apalagi kalau bukan dokter gigi. 

Mengingat janji tersebut, aku meminta izin untuk pulang lebih awal pada tim suwarni lainnya. Segera aku bergegas pulang ke rumah dengan karisma ku sayang. Walau karisma sedang sakit karena spion sebelah kanannya rusak namun ia tetap karisma ku yang berkarisma. Tanpa banyak keluhan, ia rela aku bawa dengan kecepatan di atas 60km/jam. Aku sangat terburu-buru, khawatir mamak sudah menanti di rumah.

“Zia,,besok kita ikut konvoi yuk!, kan memperingati 1 Muharram,” sapa Sinta, akhwat di kampus ku dengan suara lembutnya. Namun diriku memang sudah sangat ilfeel dengan orang-orang seperti itu. Ada sedikit kebencian yang bersarang dihatiku untuk mereka-mereka yang senantiasa menjaga jelbabnya agar menjulang menutupi hampir setengah badan. Karena perasaan itu pula, semua perbuatan baik mereka tetap buruk di mataku. Aku benci mereka. 

 Minggu, 30 September
21.20


          Perutku mual. Kepalaku sakit, seolah terbentur benda keras. Sekelilingku seperti berputar-putar. Penglihatan mulai samar. Dan aku mengeluarkan bendera putih, tanda menyerah. Aku tak sanggup mancari ide untuk menemukan solusi dari tulisan di kertas putih itu. 

          Siang yang cerah nan terik tadi, aku kedatangan seorang ibu, yang tak lain adalah tetangga dekatku. Beliau membawa secarik kertas putih. Aku mencoba menerka-nerka, perihal apa beliau mencariku bukan ibuku. Pasti ada sesuatu yang serius. Matanya menatapku dengan lemas seraya memohon. Kulihat wajahnya, sepertinya  letih. Apa yang akan dilontarkannya, perasaanku tak enak. Tanpa ragu ia menyerahkan secarik kertas putih yang sedari tadi digenggamnya. 

Jum’at, 15 Juni 2012
20.24 WIB

Beberapa tahun belakangan ini, kucing menjadi hewan peliharaan yang wajib di rumah kami. Tanpa kucing sepertinya rumah ini ada yang kurang. Bahkan sempat kucing kami mencapai 9 ekor dengan usia yang berbeda-beda. Tapi syukurlah, kami tidak kewalahan dengan jumlah tersebut. Bila kata orang, banyak peliharaan makin kurang rezeki, Alhamdulillah kami tidak merasakan hal tersebut. Malah kami cukup enjoy mendapati kenyataan bahwa para kucing di rumah kami makan nasi dengan lauk ikan, sedangkan kami harus puas dengan telur mata sapi. Toh kami sama-sama makan. 

            Namun seiring waktu, jumlah tersebut makin berkurang. Ada yang minggat tiba-tiba, ada yang mati karena sakit hingga mati karena kecelakaan. Semakin banyak kucing yang mati, maka halaman rumah kami semakin dipenuhi dengan kuburan-kuburan mereka. Hingga akhirnya kami hanya memiliki seekor kucing jantan yang kami beri nama si adek. 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me

Pengagum laut | Pecinta Biru | Berhobi Makan | Bercita-cita Kurus

POPULAR POSTS

  • several events each year
  • Saya SYAHRANI bukan SYAHRINI
  • ALL is Well
  • Mengenali Perasaan Lewat Senyuman

RECENT POST

  • ▼  2017 ( 6 )
    • ▼  Agustus ( 1 )
      • ALL is Well
    • ►  April ( 2 )
    • ►  Februari ( 1 )
    • ►  Januari ( 2 )
  • ►  2016 ( 5 )
    • ►  Desember ( 5 )
  • ►  2014 ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
  • ►  2013 ( 5 )
    • ►  Desember ( 2 )
    • ►  Oktober ( 1 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
  • ►  2012 ( 8 )
    • ►  November ( 2 )
    • ►  Oktober ( 1 )
    • ►  Juni ( 1 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  April ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
    • ►  Januari ( 1 )
  • ►  2011 ( 12 )
    • ►  Desember ( 1 )
    • ►  Agustus ( 1 )
    • ►  Juni ( 2 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  April ( 2 )
    • ►  Maret ( 2 )
    • ►  Februari ( 2 )
    • ►  Januari ( 1 )
  • ►  2010 ( 2 )
    • ►  Desember ( 2 )

Categories

  • Cerita 28
  • Fiksi 3
  • Publikasi 7
  • Puisi 5
cutdin. Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Teman

  • Muarrief Rahmat
  • Bachnar Jr.
  • Narasi Kearifan
  • Aula Andika Fikrullah Albalad
  • Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Copyright © 2016 Cut Dini Syahrani. Created by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates