Cut Dini Syahrani

Saat suara tak lagi didengar, menulislah

  • Home
  • Cerita
  • Fiksi
  • Puisi
  • Publikasi
  • Contact Us
    • Facebook
    • Instagram


Alunan dentingan piano yang singkat itu kembali mengisi kekosongan malam.  Suaranya begitu nyaring dan mampu membangunkan bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya. Itu sering terjadi setiap malam. Entah siapa yang memainkannya. Kami sekeluarga pun tidak  tahu.
Rumah yang baru kami tempati ini memang agak sedikit aneh. Bahkan para tetangga pun sering bertanya mengapa kami mau duduk di rumah yang angker ini.  Awalnya aku biasa saja. Memang sekilas terlihat angker,namun aku sangat menyukai arsitektur rumah ini. Dengan ukiran yang berbau mesir yang dapat dijumpai hampir di setiap sudut rumah. Lagipula aku bukan tipe penakut apalagi kalau harus takut dengan hal-hal semacam itu.


         Mengunjungi pantai ulee-lheu menjadi rutinitasku beberapa hari ini. Ntah mengapa semenjak kejadian itu, aku ingin sekali menghabiskan hari di pantai ini. Sambil berdiri di pinggir pantai dan memandang jauh ke arah laut. Air laut yang biru seolah menarik perhatianku hingga mataku tak mampu berpaling darinya.

          Hembusan angin pantai menerpa tubuh dengan lembut dan memainkan ujung jelbab biruku. Bau asin semakin menusuk. Semakin sore hawa di pinggir pantai semakin dingin. Namun aku hanya menikmati ini seorang diri. Memang, setelah peristiwa naas yang menelan korban hampir 100 orang itu tlah membuat trauma tersendiri bagi masyarakat Aceh. Mereka enggan ke pantai karena khawatir kalau sewaktu-waktu air yang tenang ini berubah menjadi ganas dan kembali memisahkan mereka dan keluarganya. Beberapa hari yang lalu bumi Aceh kembali geger dengan berita tenggelamnya kapal feri yang ditumpangi hampir 100 orang. Sampai sekarang tim SAR masih melakukan pencarian dengan mengerahkan seluruh anggotanya yang ada di Banda.



Masa-masa buram kini ‘tlah tertutup,
aroma kesucian menerpa bangkai,
mencoba mengaburkan kehinaan,
sepenggal nafas membangunkan jiwa,

Lembar-lembar kelam tlah terkoyak,
menghilangkan jejak pendaki dosa,
merintih dalam ruang sempit,
berharap pada Kuasa-Nya,

pupil-pupil kecil mulai bersiap,
menumpahkan segala sesal,
mengikat diri pada sebuah janji,
janji putih berbalut iman.
Beranda

About Me

Pengagum laut | Pecinta Biru | Berhobi Makan | Bercita-cita Kurus

POPULAR POSTS

  • several events each year
  • Saya SYAHRANI bukan SYAHRINI
  • Mengenali Perasaan Lewat Senyuman
  • ALL is Well

RECENT POST

  • ▼  2017 ( 6 )
    • ▼  Agustus ( 1 )
      • ALL is Well
    • ►  April ( 2 )
    • ►  Februari ( 1 )
    • ►  Januari ( 2 )
  • ►  2016 ( 5 )
    • ►  Desember ( 5 )
  • ►  2014 ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
  • ►  2013 ( 5 )
    • ►  Desember ( 2 )
    • ►  Oktober ( 1 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
  • ►  2012 ( 8 )
    • ►  November ( 2 )
    • ►  Oktober ( 1 )
    • ►  Juni ( 1 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  April ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
    • ►  Januari ( 1 )
  • ►  2011 ( 12 )
    • ►  Desember ( 1 )
    • ►  Agustus ( 1 )
    • ►  Juni ( 2 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  April ( 2 )
    • ►  Maret ( 2 )
    • ►  Februari ( 2 )
    • ►  Januari ( 1 )
  • ►  2010 ( 2 )
    • ►  Desember ( 2 )

Categories

  • Cerita 28
  • Fiksi 3
  • Publikasi 7
  • Puisi 5
cutdin. Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Teman

  • Muarrief Rahmat
  • Bachnar Jr.
  • Narasi Kearifan
  • Aula Andika Fikrullah Albalad
  • Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Copyright © 2016 Cut Dini Syahrani. Created by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates