Cut Dini Syahrani

Saat suara tak lagi didengar, menulislah

  • Home
  • Cerita
  • Fiksi
  • Puisi
  • Publikasi
  • Contact Us
    • Facebook
    • Instagram

Jum’at, 15 Juni 2012
20.24 WIB

Beberapa tahun belakangan ini, kucing menjadi hewan peliharaan yang wajib di rumah kami. Tanpa kucing sepertinya rumah ini ada yang kurang. Bahkan sempat kucing kami mencapai 9 ekor dengan usia yang berbeda-beda. Tapi syukurlah, kami tidak kewalahan dengan jumlah tersebut. Bila kata orang, banyak peliharaan makin kurang rezeki, Alhamdulillah kami tidak merasakan hal tersebut. Malah kami cukup enjoy mendapati kenyataan bahwa para kucing di rumah kami makan nasi dengan lauk ikan, sedangkan kami harus puas dengan telur mata sapi. Toh kami sama-sama makan. 

            Namun seiring waktu, jumlah tersebut makin berkurang. Ada yang minggat tiba-tiba, ada yang mati karena sakit hingga mati karena kecelakaan. Semakin banyak kucing yang mati, maka halaman rumah kami semakin dipenuhi dengan kuburan-kuburan mereka. Hingga akhirnya kami hanya memiliki seekor kucing jantan yang kami beri nama si adek. 



Pagi itu aku bersama teman-teman sekelas sedang asyik duduk di pinggir lapangan. Blang Padang, begitulah nama lapangan tersebut. Lapangan yang menjadi incaran murid-murid SD sekitar jika pelajaran olahraga tiba. Tak banyak yang menarik di sana. Namun karena luasnya, beberapa penjaja makanan dan minuman ringan memanfaatkan keramaian di tempat tersebut. Anak-anak SD seperti kami pun dengan senangnya berkeliling memilih jajanan yang enak.

Dari kejauhan aku melihat salah seorang temanku lari menuju ke arah kami. Icut…icut dicari sama BU Nani ”,teriaknya saat berada beberapa meter dariku. Aku terkejut, ada apa Kepala Sekolah mencariku. “Icut, Sela, Uci, Rahmi, kalian dicari sama Bu Nani”, tutur temanku kembali. Bergegas kami langsung balik ke sekolah yang berjarak sekitar 30 meter dari Blang Padang. Panas matahari seolah memberi semangat untuk kami agar berjalan lebih cepat.



Malam itu aku sedang duduk sendiri di dalam ruangan kecil, yang beberapa tahun terakhir ini telah menjelma menjadi dunia keduaku. Itulah istana ku. Istana yang kemegahannya aku bangun seorang diri. Istana yang bagiku sangat luar biasa, walau menurut yang lain ruangan itu tak lebih baik dari sebuah gudang. Itulah gudangku, gudang insprirasiku, kamar tidurku.

Kala itu aku sedang memandang sebuah kabel. Kabel yang seingat aku, ini sudah kedua kalinya aku dibuat sedih olehnya. Kabel charger laptopku yang dalam keadaan putus. Aku bingung harus diapakan. Karna aku tak paham dengan seluk beluk kabel. 


Kucing. Siapa sih yang tidak mengenal hewan ini. Hewan lucu nan imut yang sering menjadi peliharaan rumah tangga. Beberapa penelitian yang dilakukan, menunjukkan 90% keluarga yang memelihara kucing  akan terhindar meninggal akibat serangan jantung. Helen Brown dalam novelnya yang berjudul “Cleo, How a small black cat helped heal a family” juga menceritakan tentang pengalaman serunya ketika memelihara seekor kucing hitam di tengah trauma yang diderita keluarganya. Beliau memaparkan tentang keunikan-keunikan dari struktur tubuh si hewan berbulu indah ini. Menurutnya, membelai kucing adalah suatu pertualangan, perjalanan penemuan di hutan bulu milik si kucing.

Kucing adalah predator yang hebat serta lucu. Mereka memiliki sekitar 30 gigi dalam mulutnya. Mereka sering menangkap mangsanya, lalu mempermainkannya hingga si mangsa tak sadarkan diri bahkan mati. Setelah puas bermain-main, kucing akan menelan sebagian kecil dari tubuh mangsanya tersebut. Namun jangan kira kalau perutnya mampu menerima kiriman dari mulut si kucing. Tunggulah beberapa saat, maka kita akan mendapati kucing memuntahkannya kembali. 

Ku tinggalkan cinta…
Pada bait-bait kehidupan ,
Yang kadang menjelma menjadi surga,
Penggoyah iman pada tatapan mata,

Ku tinggalkan cinta…
Pada mereka yang terkasih,
Dalam kecupan hangat di setiap asa,
Dalam serpihan pelita pmbasuh jiwa,


Ku tinggalkan cinta…
‘tuk menghadap pada Sang Maha Cinta,
Melepaskan segala angkuh berbalut nestapa,
Pada jejak-jejak kaki pecandu dosa,

Ku tinggalkan cinta…
Pada sebuah ukiran nama,
Pengobat rindu bersanding luka,
Bagi insan pewaris cinta...




Pagi ini sangat berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Rasa letih itu seolah berlomba-lomba menghinggapi tubuh. Pusing dengan semua tanggung jawab yang seakan tak pernah akan berujung. Bahkan tanggung jawab orang lain pun harus membebani pikiran. Melakukan hal-hal yang sebenarnya bukan kerjaan kita. Apakah ini? Apa yang salah dengan beban  ini? Inikah pertanda bahwa kita sedang dimanfaatkan? Kesal, ingin marah, ingin menuntut atas ketidakadilan yang diterima selama ini.

Ketika semua terlalu sangat memberatkan, alahkah baiknya kita luangkan sedikit waktu untuk diam, mulailah ber-muhasabah diri. Jika sekarang kita merasa dizhalimi,  terlalu dimanfaatkan oleh orang-orang sekitar, maka berfikirlah sejenak. Barangkali itu adalah karma dari apa yang telah kita lakukan. Mungkin saja kitalah yang selama ini telah memanfaatkan orang-orang yang terlanjur sayang  dengan kita. Yang selalu ada ketika kita butuh, yang mungkin juga terlajur meng-iyakan ketika kita meminta, yang telah mengorbankan sedikit kebahagiaannya demi rewelan kita.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me

Pengagum laut | Pecinta Biru | Berhobi Makan | Bercita-cita Kurus

POPULAR POSTS

  • several events each year
  • Saya SYAHRANI bukan SYAHRINI
  • ALL is Well
  • Mengenali Perasaan Lewat Senyuman

RECENT POST

  • ▼  2017 ( 6 )
    • ▼  Agustus ( 1 )
      • ALL is Well
    • ►  April ( 2 )
    • ►  Februari ( 1 )
    • ►  Januari ( 2 )
  • ►  2016 ( 5 )
    • ►  Desember ( 5 )
  • ►  2014 ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
  • ►  2013 ( 5 )
    • ►  Desember ( 2 )
    • ►  Oktober ( 1 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
  • ►  2012 ( 8 )
    • ►  November ( 2 )
    • ►  Oktober ( 1 )
    • ►  Juni ( 1 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  April ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
    • ►  Januari ( 1 )
  • ►  2011 ( 12 )
    • ►  Desember ( 1 )
    • ►  Agustus ( 1 )
    • ►  Juni ( 2 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  April ( 2 )
    • ►  Maret ( 2 )
    • ►  Februari ( 2 )
    • ►  Januari ( 1 )
  • ►  2010 ( 2 )
    • ►  Desember ( 2 )

Categories

  • Cerita 28
  • Fiksi 3
  • Publikasi 7
  • Puisi 5
cutdin. Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Teman

  • Muarrief Rahmat
  • Bachnar Jr.
  • Narasi Kearifan
  • Aula Andika Fikrullah Albalad
  • Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Copyright © 2016 Cut Dini Syahrani. Created by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates