Cut Dini Syahrani

Saat suara tak lagi didengar, menulislah

  • Home
  • Cerita
  • Fiksi
  • Puisi
  • Publikasi
  • Contact Us
    • Facebook
    • Instagram
Kucing. Siapa sih yang ngak kenal hewan ini. Bahkan sanking tergila-gilanya sama kucing, sutradara film superman mendatangkan tokoh yang diberi nama catwomen (ngarang,,,ntah iya tu hehhe). Tapi saya bukan mau membahas masalah catwomen ,wonder women atau salesman. Yang saya ingin ungkapkan disini adalah alasan saya dekat dengan hewan yang bernama kucing ini.
Banyak dari teman-teman, kerabat, saudara, dan orang-orang yang kenal dengan saya menanyakan perihal kenapa saya begitu mengagumi kucing. Kenapa kalau liat kucing saya selalu tersenyum. Kenapa di rumah saya rame kucing. Kenapa kami sekeluarga suka sama kucing. Kenapa kami pelihara kucing. Kenapa dan kenapa dan kenapa dengan kucing. Ada apa dengan kucing…heheheh
Kadang mereka terheran-heran melihat saya peluk-peluk kucing, gemes ma kucing. Trus kucingnya saya elus-elus. Dan saya kok lebih dekat ma kucing dari pada ma manusia. Begini ceritanya. Kalau yang saya peluk-peluk itu manusia, misalkan datang-datang saya langsung peluk-peluk kawan saya nanti dikira saya lesbian…hahhaa. Trus kalo yang saya peluk itu cowok,,,,kan bukan muhrim…^_^
tapi ini bukan kucing saya..^_^
Bagi saya kucing tu adalah hewan yang imut, lucu, mentel, pendengar yang baik dan ngak suka bocorin rahasia kita. Saya paling suka sama kucing yang ganteng dan cantik trus badannya gendut. Tapi masalah cantik atau ganteng mungkin sedikit sulit untuk menilai. Kalau kata senior saya itu relatif.  Yang pasti kalau di mata saya dia (kucing) cantik atau ganteng , saya pasti langsung jatuh hati.,,aw,,,aw,,,..Oh ya mungkin teman-teman bingung kenapa saya bilang kucing  itu pendengar yang baik dan ngak suka bocorin rahasia kita.
Kalau teman-teman tidak percaya, teman-teman boleh mempraktekkan sendiri di rumah atau dimana saja yang ada kucingnya. Masukkan kucing itu ke dalam sebuah ruangan. Tutup pintu dan jendela rapat-rapat. Hanya ada anda dan dia di dalam ruangan. Dan pastikan tidak ada seorang pun yang mendengar perbincangan kalian. Dan mulai lah anda mengeluarkan unek-unek yang ada di kepala. Mulai dari suka sama si fulan, atau ngak suka n sebel ma si fulana dan curhat-curhatan lainnya. Nikmatilah curhatan tersebut dan anda pasti setuju dengan pernyataan saya terkait masalah kucing diatas (kucing pendengar yang baik dan ngak bocor). :)
Begitu lah cerita singkat saya mengenai kucing. InsyaAllah akan saya sambung lagi kapan-kapan.
Terima kasih…^_^

            Kesejahteraan. Kata ini yang sering dituntut oleh rakyat kecil seperti kita. Ya, mungkin  kita hanya bisa menuntut sesuatu yang menguntungkan bagi kita. Kesejahteraan juga sering kali menjadi tolak ukur bagi kesuksesan Pemimpin sebuah Negara. Dan kita, dapat menilai seorang Pemimpin itu sukses, ketika semua bawahannya atau yang dipimpinnya dapat merasakan kesejahteraan.
            Namun bagaimana dengan orang-orang di luar sana yang tidak pernah memikirkan masalah kesejahteraan bawahannya ketika ia menjadi seorang pemimpin. Tapi tunggu dulu, sepertinya terlalu jauh untuk mengatakan “di luar sana”. Karena kita bisa melihat pemimpin seperti ini di sekitar kita. Bahkan sangat dekat dengan kita.
            Saya sangat yakin dan percaya, bahwa cara memimpin setiap orang itu memang berbeda-beda. Jadi kita tidak perlu membanding-bandingkan para pemimpin tersebut. Karena mereka pasti memiliki ciri khas kepemimpinan tersendiri. Walau kadang hal yang sering disebut kesejahteraan itu sering terabaikan.
            Ini adalah isi hati seorang junior yang terperangkap dalam “kandang lobster”. Bagi saya itu adalah sebutan yang paling sopan untuk suatu wilayah yang benar-benar telah merenggut jiwa loyalitas kami. Bagaimana tidak, mereka para pendiri di kandang tersebut adalah orang-orang paling TOP dan selalu di bangga-banggakan. Dengan segala prestasi-prestasi dan keahlian mereka, bahkan keahlian bermuka dua pun mampu membuat siapa saja terpesona. Namun tidak untuk manusia-manusia malang yang terperangkap dalam sistem-sistem mereka.
            Saat popularitas menjadi prioritas, ludah yang sudah dibuang pun rela untuk dijilat kembali. Bahkan kawan dianggap lawan. Dan junior pun, hanya dianggap BUDAK.
 “ Meninggikan nama sendiri dengan memanfaatkan orang lain. Setelah semua kalian dapatkan kalian pun lupa hanya untuk sekedar mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang telah kalian manfaatkan”.
Ungkapan ini sangat-sangat cocok untuk mereka. Saat mereka memaksa kami untuk melakukan sesuatu yang berat demi menyukseskan segala hal yang telah mereka rancangkan. Dan setelah itu benar-benar sukses, mereka seolah tak memperdulikan sekitarnya. Yang ada di kepala mereka hanyalah terkenal dengan kesuksesan-kesuksesan tersebut.

Wahai para pendiri kandang lobster,,,
Tidakkah kalian melihat bagaimana perjuangan kami mengabdi pada kalian???
Tidakkah kalian melihat bagaimana kepatuhan kami melakukan apa yang kalian pinta???
Tidakkah kalian melihat bagaimana kami menangis mengenang kejahatan kalian???
Tidakkah kalian melihat bagaimana kami hampir mati ketakutan ketika makian itu kalian lontarkan???
Tidakkah kalian melihat kesedihan kami kala harga diri kami kalian injak-injak???
Tidakkah kalian melihat kekecewaan kami ketika mengetahui kebusukan kalian???
dan tidakkah kalian menyadari betapa kami selalu dan selalu kalian down kan dengan segala ocehan-ocehan kalian ???
Dan kuyakin kalian senang dan tertawa lepas kala menyebut kami sebagai “pekerja”

Lalu dimana kalian tampung semua kreatifitas kami???
Sadarilah wahai pendiri kandang lobster, kalian telah menzhalimi kami.
Dan tunggu lah hukum karma itu kalian dapatkan.










Ketika suara kita tak lagi di dengar, menulis adalah jalan terbaik.
mungkin tulisan ini masih bersifat abstrak dan memang saya mengkhususkan untuk beberapa orang saja…
Dan bagi “kalian” yang merasa, saya mohon maaf jika ini kurang berkenan,,karena menurut saya tak perlu kami melakukan apa yang kalian kenankan.



Masa-masa buram kini ‘tlah tertutup,
aroma kesucian menerpa bangkai,
mencoba mengaburkan kehinaan,
sepenggal nafas membangunkan jiwa,

Lembar-lembar kelam tlah terkoyak,
menghilangkan jejak pendaki dosa,
merintih dalam ruang sempit,
berharap pada Kuasa-Nya,

pupil-pupil kecil mulai bersiap,
menumpahkan segala sesal,
mengikat diri pada sebuah janji,
janji putih berbalut iman.
Postingan Lebih Baru Beranda

About Me

Pengagum laut | Pecinta Biru | Berhobi Makan | Bercita-cita Kurus

POPULAR POSTS

  • Saya SYAHRANI bukan SYAHRINI
  • several events each year
  • Mengenali Perasaan Lewat Senyuman
  • ALL is Well

RECENT POST

  • ▼  2017 ( 6 )
    • ▼  Agustus ( 1 )
      • ALL is Well
    • ►  April ( 2 )
    • ►  Februari ( 1 )
    • ►  Januari ( 2 )
  • ►  2016 ( 5 )
    • ►  Desember ( 5 )
  • ►  2014 ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
  • ►  2013 ( 5 )
    • ►  Desember ( 2 )
    • ►  Oktober ( 1 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
  • ►  2012 ( 8 )
    • ►  November ( 2 )
    • ►  Oktober ( 1 )
    • ►  Juni ( 1 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  April ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
    • ►  Januari ( 1 )
  • ►  2011 ( 12 )
    • ►  Desember ( 1 )
    • ►  Agustus ( 1 )
    • ►  Juni ( 2 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  April ( 2 )
    • ►  Maret ( 2 )
    • ►  Februari ( 2 )
    • ►  Januari ( 1 )
  • ►  2010 ( 2 )
    • ►  Desember ( 2 )

Categories

  • Cerita 28
  • Fiksi 3
  • Publikasi 7
  • Puisi 5
cutdin. Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Teman

  • Muarrief Rahmat
  • Bachnar Jr.
  • Narasi Kearifan
  • Aula Andika Fikrullah Albalad
  • Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Copyright © 2016 Cut Dini Syahrani. Created by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates