Cut Dini Syahrani

Saat suara tak lagi didengar, menulislah

  • Home
  • Cerita
  • Fiksi
  • Puisi
  • Publikasi
  • Contact Us
    • Facebook
    • Instagram


Senyum merupakan salah satu bahasa tubuh yang digunakan manusia dalam berinteraksi. Kemampuan tersenyum merupakan anugerah terbesar bagi manusia sebagai satu-satunya makhluk di muka bumi yang dapat tersenyum. Senyum didefinisikan sebagai ekspresi wajah yang dibentuk oleh terikan otot terutama otot di kedua ujung bibir. Sebuah senyuman akan mengubah keadaan emosi menjadi lebih positif. Wajah yang tersenyum dapat membuatnya terlihat lebih menarik.

Saat tersenyum, otak mengeluarkan serotonin yang berguna untuk meningkatkan system kekebalan tubuh. Serotonin dikenal dengan hormon kebahagiaan. Sekitar 80 persen dari keseluruhan total serotonin di dalam tubuh manusia terdapat pada sel enterochromaffin di usus yang berfungsi untuk mengatur gerakan usus. Sisanya sekitar 20 persen disintesis dalam neuron serotonik pada system saraf pusat yang berfungsi untuk mengatur suasana hati, nafsu makan, tidur, serta kontraksi otot. Kelebihan serotonin bisa menyebabkan kegelisahan, kebingungan, peningkatan denyut jantung, serta kehilangan koordinasi otot. Kekurangan serotonin dapat menyebabkan kecemasan, phobia,  gangguan tidur, dan sakit kepala.
Setiap orang memiliki cara tersenyum masing-masing. Senyum tidak selalu identik dengan bibir sebab senyum adalah ekspresi wajah secara keseluruhan. Berbeda cara menegakkan wajah, cara memicingkan mata, cara menarik bibir, maka berbeda pula makna dari senyuman tersebut. Selain senyum yang menggambarkan perasaan senang, ada pula senyum kecut yaitu senyum yang mengindikasikan perasaan khawatir dan sedih. Kita dapat mengenali perasaan dan isi hati seseorang dengan senyuman.

  • Duchenne Smile
Istilah senyum ini digunakan untuk menggambarkan senyum bahagia. Senyuman ini dihasilkan dari emosi yang murni. Duchenne smile ditandai dengan ekspresi mulut, mata, dan hati secara bersamaan sehingga menghasilkan garis melengkung di bibir dan keriput di ujung mata.
  • Fake Smile
Istilah ini adalah kebalikan dari duchenne smile. Senyuman ini diartikan dengan senyuman palsu yang menunjukkan  kepura-puraan. Fake smile digunakan saat kita sedang terpuruk akibat suatu keadaan, tapi berpura-pura tegar dengan melempar senyuman di hadapan orang lain. Senyuman tipe ini sering digunakan ketika sedang tersenyum di depan kamera.
  • Uncomfortable Smile
Istilah uncomfortable smile adalah senyuman yang menunjukkan perasaan tidak enak. Senyuman ini untuk menutupi perasaan ketidaknyamanan yang bisa saja hadir dari suatu keadaan atau merasa tersinggung dengan perkataan orang lain yang tidak pantas.
Tidak mudah membedakan duchenne smile dengan fake smile. Perbedaan yang paling mencolok terletak pada jumlah simetri di wajah. Fake smile jauh lebih tidak seimbang dibandingkan duchenne smile. Senyum yang sengaja ditahan lebih lama sekitar 1-2 detik lebih lama daripada senyum bahagia, tapi ini hanya berdasarkan kajian-kajian popular saja.
Menurut Haiyun Nisa, S.Psi., M.Psi. salah satu pengajar di prodi Psikologi Kedokteran Unsyiah, mengatakan bahwa secara ilmiah senyum merupakan ekspresi emosi yang sedang dirasakan oleh individu terutama emosi positif. Senyum memiliki efek positif bagi individu yang bersangkutan dan bagi lawan bicaranya. Secara umum seseorang tersenyum ketika mengekspresikan perasaan tenang dan senang. Ada orang yang mudah tersenyum, ada pula yang memerlukan proses yang lama untuk dapat tersenyum.
Banyak hal yang memengaruhi bagaimana ekspresi senyum itu dengan mudah untuk diperlihatkan. Hal itu tergantung pada pola pengasuhan, kepribadian, lingkungan, budaya bahkan tuntutan pekerjaan. Ketika berinteraksi dengan orang lain, kita bisa melihat ekspresi verbal dan  nonverbal. Bagaimana seseorang di hadapan kita memperlihatkan bahasa tubuhnya, ekspresi wajahnya dan kontak matanya. Kita dapat mengetahui apa yang mungkin sedang dirasakan oleh lawan bicara kita. Bisa saja dia menyukai berbicara dengan kita, atau sebaliknya, dia merasa tidak nyaman.
Melemparkan senyuman tulus kepada orang lain juga dapat menularkan keceriaan. Senyuman juga mampu menenangkan kegelisahan. Bertemu seseorang dengan wajah tersenyum bisa membuat kita merasa lebih nyaman. Dalam ajaran agama pun senyum sangat dianjurkan sebab bernilai ibadah.


Editor : Ferhat
Dipublikasikan di Warta Unsyiah Edisi April 2016, pada Rubrik Saintek 


Alunan dentingan piano yang singkat itu kembali mengisi kekosongan malam.  Suaranya begitu nyaring dan mampu membangunkan bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya. Itu sering terjadi setiap malam. Entah siapa yang memainkannya. Kami sekeluarga pun tidak  tahu.
Rumah yang baru kami tempati ini memang agak sedikit aneh. Bahkan para tetangga pun sering bertanya mengapa kami mau duduk di rumah yang angker ini.  Awalnya aku biasa saja. Memang sekilas terlihat angker,namun aku sangat menyukai arsitektur rumah ini. Dengan ukiran yang berbau mesir yang dapat dijumpai hampir di setiap sudut rumah. Lagipula aku bukan tipe penakut apalagi kalau harus takut dengan hal-hal semacam itu.



Tepat 6 tahun silam, aku menuliskan kata-kata ini. Ungkapan dari dalam hati anak umur 19 tahun. Setelah selesai menuliskannya, aku pun bingung bagaimana cara memberikan pada mamak. Hampir tak pernah dalam kehidupan kami dilalui dengan kata-kata romantis, jadi masih sangat gengsi. Akhirnya dengan sedikit keberanian, aku menulisnya di secarik kertas dan memasukkan ke dalam sebuah amplop. Saat akan minta izin berangkat ke kampus, dengan malu-malu aku berikan ke tangan mamak dan langsung buru-buru keluar rumah. 

Gampong Pande, kawasan yang menjadi titik nol Banda Aceh ini merupakan sebuah perkampungan di kecamatan Kutaraja, Banda Aceh yang menyimpan sejarah Kerajaan Aceh. Beberapa peninggalan sejarah yang masih terawat hingga kini sangat menarik untuk ditelaah. Salah satu peninggalan tersebut adalah tiga komplek pemakaman kuno yang terletak di tengah-tengah kampung dan telah dijadikan lokasi wisata sejarah. Kampung ini sering dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk menapak tilas sejarah kerjaan Aceh.

Gampong Pande merupakan kampung tertua di Banda Aceh. Seorang ahli sejarah, Adian Yahya, menceritakan bahwa cikal bakal berdirinya kerajaan Aceh berawal di gampong Pande. Beliau pun meyakini bahwa Gampong Pande sudah ada sejak zaman Nabi Sulaiman as. Penyebaran Islam di Aceh dimulai pada tahun 674 M. Sultan Aceh pertama adalah Sultan Abdul Aziz Johan Syah yang memerintah di tahun 1205.

Pande yang dalam bahasa Indonesia berarti ahli. Dinamakan Gampong Pande, karena di daerah ini dulu banyak terdapat orang-orang yang ahli. Mereka ahli dalam membuat pedang, koin, dirham dan lainnya. Artefak dan peninggalan-peninggalan disana membuktikan bahwa mereka juga memiliki nilai seni yang tinggi. Selain itu, Aceh terkenal sebagai penghasil rempah-rempah terbesar. Kegiatan perdagangan tersebut dilakukan di Gampong Pande sehingga kawasan ini terkenal sebagai pusat industri dan perdagangan yang strategis. 

Hal inilah yang membuat komunitas Kota Tanyoe mengadakan kegiatan Wet Wet Gampong untuk memburu sejarah Kerajaan Aceh di kampung tersebut. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 5 November 2016 tersebut melibatkan puluhan peserta yang memiliki latar belakang berbeda. Kami diberi kesempatan untuk melihat Gampong Pande lebih dekat, mulai dari sejarah, peninggalan serta keramahan warga kampung tersebut.

Pemburuan kami diawali dengan mengunjungi komplek makam Tuan Di Kandang. Makam Tuan Di kandang berada di tengah-tengah puluhan nisan lainnya yang mengelilingi. Nisan-nisan kuno dengan ciri khas ukiran kaligrafi yang bertuliskan lafaz al-quran tersebut masih berdiri kokoh walau umurnya sudah ratusan tahun. Raja yang memiliki nama asli Mahmud Abi Abdullah Syech Abdur Rauf Baghdadi ini adalah seorang ulama yang berasal dari Baghdad. Beliau terkenal sebagai sosok panutan yang jujur dan taat beribadah yang membawa ajaran agama islam ke Aceh. Nama Tuan Di Kandang diabadikan oleh warga setempat menjadi nama sebuah Mesjid yang letaknya tak jauh dari Makan Ulama tersebut. Komplek pemakaman ini sudah dipugar sebagai cagar budaya oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Aceh.

Keluar dari komplek makam Tuan Di Kandang, kami melangkahkan kaki mengikuti instruksi panitia. Panas terik tak terlalu mengganggu karena suasana masih teduh. Banyak dahan-dahan pohon besar yang melindungi langkah kami. Adian Yahya juga berkisah, bahwa kampung ini sebelum tsunami adalah kawasan yang tandus. Namun musibah itu menjadi berkah tersendiri, karena setelah peristiwa yang cukup memilukan tersebut, gampong pande menjelma menjadi kawasan yang rindang. Tanah yang subur menjadikan pohon-pohon tetap kokoh berdiri.

Setelah berjalan sekitar 10 meter, kami berhenti di sebuah semak-semak. Pak Adian menunjukkan ke arah semak tersebut, sambil berkata,” Disana terdapat dua buah sumur, sayang tak terurus.”  Mata kami kesulitan menemukan tempat yang dimaksud, karena kawasan tersebut ditumbuhi rumput-rumput liar yang tingginya hampir satu meter. Tak berlama-lama disana, kami memulai kembali perjalanan. Tanpa terasa kami sampai di suatu tempat. Dihadapan kami terhampar tambak-tambak dengan tumbuhan bakau dan nipah yang berjejer di pinggirnya.

Sekilas, tambak ini terlihat biasa saja. Sampai Pak Adian meminta kami untuk jongkok dan melihat apa yang di dalam tambak. Sedikit terkejut, karena ternyata banyak nisan-nisan kuno tak beraturan di sana. Itu menandakan terdapat banyak makam disana, makam yang digenangi air keruh tambak. Sekilas menatap wajah pak Adian Yahya, mata beliau sedikit berkaca-kaca. Beliau menuturkan bahwa belum ada yang peduli untuk merawat situs sejarah ini. Mungkin kampung yang menjadi awal dari penyebaran agama Islam di Aceh ini tidak ada yang mengetahui sampai sebuah peristiwa menggegerkan terjadi. Peristiwa ini berawal dari seorang pencari tiram yang menemukan koin emas berukiran bahasa arab dikawasan kampung tersebut di Bulan November tahun 2013 silam. Sontak, kabar penemuan tersebut membuat banyak orang berbondong-bondong pergi ke lokasi karena jumlahnya yang sangat banyak. Bukan hanya koin, warga juga menemukan dua buah pedang kuno disekitar lokasi yang sama. Hal tersebut membuat Gampong Pande mulai menjadi perhatian.

Setelah melewati tambak yang terdapat makam kuno tersebut, kami berbelok ke kiri untuk menuju komplek makan putroe ijo (putri hijau). Komplek pemakaman ini tidak terlau luas, namun  kondisi lebih baik. Komplek pemakaman Putroe Ijo ini sudah berpagar besi dengan susunan nisan yang teratur. Tak jauh dari Komplek pemakaman Putroe Ijo, terdapat komplek pemakaman lain yang  mirip dengan komplek pemakaman Putroe Ijo. Menurut Pak Adian, kedua komplek pemakaman ini sebenarnya bersambung. Namun anehnya, diantara dua komplek tersebut terdapat rumah-rumah warga.

Saat peristiwa Tsunami yang melanda Aceh 2014 silam, nisan-nisan kuno peninggalan Kerajaan Aceh di kampung ini terpencar dibawa arus Tsunami. Pak Adian mencoba memetakan kembali nisan-nisan tersebut seperti semula berdasarkan arsip-arsip seperti foto-foto yang masih tertinggal. Nisan yang terdapat di pemakaman kuno ini memiliki corak yang serupa. Kini, komplek pemakaman kuno ini pun sudah dipugar sebagai cagar budaya oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Aceh.

Membahas Sejarah Aceh tak kan pernah ada habisnya. Banyak sekali hal-hal menarik yang dapat kita teladani dari pelaku-pelaku sejarah tersebut. Gampong Pande hanya salah satu dari banyaknya saksi bisu sejarah aceh. Menjaga dan merawat situs sejarah adalah tugas kita bersama. 


Apa yang terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata ‘guru’? pengajar, pendidik, pengabdian, pintar, kasih sayang, killer, tegas. Yap, menjadi guru adalah tentang tanggungjawab. Guru merupakan profesi mulia, pantas sangat dicita-citakan tak terkecuali saya. Sayangnya takdir tak berpihak kepada saya untuk dapat menuntut ilmu di jurusan keguruan.
Cannabis sativa atau yang biasa disebut dengan “tumbuhan ganja” telah lama dikenal dan dimanfaatkan manusia. Secara historis, ganja pertama kali ditemukan di Cina tahun 2737 SM. Masyarakat Cina menggunakan ganja sebagai bahan tenun pakaian, kertas, dan terapi penyembuhan untuk berbagai penyakit seperti rematik, sakit perut, beri-beri, hingga malaria. Tumbuhan ini hanya tumbuh di daerah pegunungan tropis dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Tanaman ganja dapat tumbuh liar dengan sedikit perawatan. Tanaman ini hanya membutuhkan sedikit irigasi, pupuk, dan hampir tidak membutuhkan pestisida karena bunga dan daunnya dapat  menghasilkan sendiri biosida atau zat pengusir hama.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me

Pengagum laut | Pecinta Biru | Berhobi Makan | Bercita-cita Kurus

POPULAR POSTS

  • several events each year
  • Saya SYAHRANI bukan SYAHRINI
  • ALL is Well
  • Mengenali Perasaan Lewat Senyuman

RECENT POST

  • ▼  2017 ( 6 )
    • ▼  Agustus ( 1 )
      • ALL is Well
    • ►  April ( 2 )
    • ►  Februari ( 1 )
    • ►  Januari ( 2 )
  • ►  2016 ( 5 )
    • ►  Desember ( 5 )
  • ►  2014 ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
  • ►  2013 ( 5 )
    • ►  Desember ( 2 )
    • ►  Oktober ( 1 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
  • ►  2012 ( 8 )
    • ►  November ( 2 )
    • ►  Oktober ( 1 )
    • ►  Juni ( 1 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  April ( 1 )
    • ►  Maret ( 1 )
    • ►  Januari ( 1 )
  • ►  2011 ( 12 )
    • ►  Desember ( 1 )
    • ►  Agustus ( 1 )
    • ►  Juni ( 2 )
    • ►  Mei ( 1 )
    • ►  April ( 2 )
    • ►  Maret ( 2 )
    • ►  Februari ( 2 )
    • ►  Januari ( 1 )
  • ►  2010 ( 2 )
    • ►  Desember ( 2 )

Categories

  • Cerita 28
  • Fiksi 3
  • Publikasi 7
  • Puisi 5
cutdin. Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Teman

  • Muarrief Rahmat
  • Bachnar Jr.
  • Narasi Kearifan
  • Aula Andika Fikrullah Albalad
  • Ferhat Muchtar - Catatan Seru!

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Copyright © 2016 Cut Dini Syahrani. Created by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates