“Zia,,besok
kita ikut konvoi yuk!, kan memperingati 1 Muharram,” sapa Sinta,
akhwat di kampus ku dengan suara lembutnya. Namun diriku memang sudah
sangat ilfeel dengan orang-orang seperti itu. Ada
sedikit kebencian yang bersarang dihatiku untuk mereka-mereka yang
senantiasa menjaga jelbabnya agar menjulang menutupi hampir setengah
badan. Karena perasaan itu pula, semua perbuatan baik mereka tetap
buruk di mataku. Aku benci mereka.
Minggu, 30 September
21.20
Perutku mual. Kepalaku sakit, seolah terbentur benda keras. Sekelilingku
seperti berputar-putar. Penglihatan mulai samar. Dan aku mengeluarkan bendera
putih, tanda menyerah. Aku tak sanggup mancari ide untuk menemukan solusi dari
tulisan di kertas putih itu.
Siang yang cerah nan terik tadi, aku kedatangan seorang ibu, yang tak lain
adalah tetangga dekatku. Beliau membawa secarik kertas putih. Aku mencoba
menerka-nerka, perihal apa beliau mencariku bukan ibuku. Pasti ada sesuatu yang
serius. Matanya menatapku dengan lemas seraya memohon. Kulihat wajahnya,
sepertinya letih. Apa yang akan dilontarkannya, perasaanku tak enak.
Tanpa ragu ia menyerahkan secarik kertas putih yang sedari tadi
digenggamnya.
Jum’at,
15 Juni 2012
20.24
WIB
Beberapa
tahun belakangan ini, kucing menjadi hewan peliharaan yang wajib di rumah kami.
Tanpa kucing sepertinya rumah ini ada yang kurang. Bahkan sempat kucing kami
mencapai 9 ekor dengan usia yang berbeda-beda. Tapi syukurlah, kami tidak
kewalahan dengan jumlah tersebut. Bila kata orang, banyak peliharaan makin
kurang rezeki, Alhamdulillah kami tidak merasakan hal tersebut. Malah kami
cukup enjoy mendapati kenyataan bahwa para kucing di rumah kami makan nasi
dengan lauk ikan, sedangkan kami harus puas dengan telur mata sapi. Toh kami
sama-sama makan.
Namun seiring waktu, jumlah tersebut makin berkurang. Ada
yang minggat tiba-tiba, ada yang mati karena sakit hingga mati karena
kecelakaan. Semakin banyak kucing yang mati, maka halaman rumah kami semakin
dipenuhi dengan kuburan-kuburan mereka. Hingga akhirnya kami hanya memiliki
seekor kucing jantan yang kami beri nama si adek.
Pagi itu aku bersama teman-teman sekelas
sedang asyik duduk di pinggir lapangan. Blang Padang, begitulah nama lapangan
tersebut. Lapangan yang menjadi incaran murid-murid SD sekitar jika pelajaran
olahraga tiba. Tak banyak yang menarik di sana. Namun karena luasnya, beberapa
penjaja makanan dan minuman ringan memanfaatkan keramaian di tempat tersebut.
Anak-anak SD seperti kami pun dengan senangnya berkeliling memilih jajanan yang
enak.
Dari kejauhan aku melihat salah seorang
temanku lari menuju ke arah kami. Icut…icut dicari sama BU Nani ”,teriaknya
saat berada beberapa meter dariku. Aku terkejut, ada apa Kepala Sekolah mencariku.
“Icut, Sela, Uci, Rahmi, kalian dicari sama Bu Nani”, tutur temanku kembali.
Bergegas kami langsung balik ke sekolah yang berjarak sekitar 30 meter dari
Blang Padang. Panas matahari seolah memberi semangat untuk kami agar berjalan
lebih cepat.
Malam
itu aku sedang duduk sendiri di dalam ruangan kecil, yang beberapa tahun
terakhir ini telah menjelma menjadi dunia keduaku. Itulah istana ku. Istana
yang kemegahannya aku bangun seorang diri. Istana yang bagiku sangat luar
biasa, walau menurut yang lain ruangan itu tak lebih baik dari sebuah gudang. Itulah
gudangku, gudang insprirasiku, kamar tidurku.
Kala
itu aku sedang memandang sebuah kabel. Kabel yang seingat aku, ini sudah kedua
kalinya aku dibuat sedih olehnya. Kabel charger laptopku yang dalam keadaan
putus. Aku bingung harus diapakan. Karna aku tak paham dengan seluk beluk
kabel.
Kucing.
Siapa sih yang tidak mengenal hewan ini. Hewan lucu nan imut yang sering
menjadi peliharaan rumah tangga. Beberapa penelitian yang dilakukan,
menunjukkan 90% keluarga yang memelihara kucing
akan terhindar meninggal akibat serangan jantung. Helen Brown dalam
novelnya yang berjudul “Cleo, How a small black cat helped heal a family” juga
menceritakan tentang pengalaman serunya ketika memelihara seekor kucing hitam
di tengah trauma yang diderita keluarganya. Beliau memaparkan tentang keunikan-keunikan
dari struktur tubuh si hewan berbulu indah ini. Menurutnya, membelai kucing
adalah suatu pertualangan, perjalanan penemuan di hutan bulu milik si kucing.
Kucing
adalah predator yang hebat serta lucu. Mereka memiliki sekitar 30 gigi dalam
mulutnya. Mereka sering menangkap mangsanya, lalu mempermainkannya hingga si
mangsa tak sadarkan diri bahkan mati. Setelah puas bermain-main, kucing akan
menelan sebagian kecil dari tubuh mangsanya tersebut. Namun jangan kira kalau
perutnya mampu menerima kiriman dari mulut si kucing. Tunggulah beberapa saat,
maka kita akan mendapati kucing memuntahkannya kembali.


